MONOLOG

Pada hari-hari yang sepi, saya gemar menciptakan wajah. Jika saya sedang ingin piknik keluarga seperti kebanyakan yang terekam di iklan-iklan televisi, saya akan menciptakan wajah bapak, wajah ibu, wajah kakak perempuanku, lengkap dengan wajah anak-anak mereka. Saya kemudian menciptakan alur, mulai dari berpiknik pagi hari, mandi sinar matahari, makan buah, sayur, lauk lengkap dengan suasana tawa, bahagia, sewajarnya standar orang-orang punya keluarga bahagia. Ya begitulah.

Jika sedang ingin bermain air pantai, saya menciptakan wajahmu, jangan protes dulu, memang itu yang terlintas di dalam pikiran saya. Kemudian, saya menciptakan alur, dengan mengajakmu menari, bernyanyi lagu kesukaanmu, dan menikmati petang yang mengantarkan ombak pulang ke pelukan pasir-pasir pantai untuk mencumbu sekejap kemudian menghalu pergi kembali. Saya pikir-pikir seperti kamu.

Jika sedang ingin tertawa terbahak-bahak, saya menciptkan wajah teman-teman saya yang gemar menceritakan humor-humor aneh menggelikan. Saya juga menciptakan alur, tempat dan waktu. Biasanya kami asik bercengkerama di pinggir danau yang lumayan tidak terkenal tempatnya. Biasanya juga kami tertawa dimana saja, saat kita ingin tertawa kami tertawa saja, entah itu lucu atau sebenarnya tidak lucu-lucu amat, kami senang tertawa. Kami juga senang menganggu orang yang tidak bisa tertawa untuk diajak tertawa. Cukup-cukup sepertinya alur ini terlalu panjang.

Lanjut, jika saya sedang ingin mengumpat, saya tidak menciptakan wajah. Memangnya, saya ingin mengumpati wajahmu, kan tidak. Saya hanya menciptakan ruang dan alur. Saya senang mengumpat di jalanan saat berkendara, saya rasa itu adalah saat yang tepat dan terasik untuk mengumpat apapun. Tak akan ada orang yang menceramahi. Lagi pula, bukankah umpatan itu juga diksi? Kumpulan kata-kata yang seringkali dianggap paling rendahan. Hah, bagaimana bisa ada kata yang kedudukannya lebih tinggi hanya karena sering digunakan dalam kalimat-kalimat suci. Ternyata, kata-kata yang merupakan benda mati tak bisa bebas mengekspresikan dirinya ya, bagaimana dengan benda hidup yang jelas-jelas punya polisi moral dimana-mana, hahaha. Ya, terserahmu saja lah.


Tapi, jika saya sedang ingin sendiri, saya tak perlu mencipta wajah, ruang, atau alur. Saya cukup kembali ke realita, di kamar persegi seperti korek api ini, memeluk diri selagi gigil yg menyapa setiap dini hari, yang dindingnya terlukis banyak wajah. Ada Bapak, ibu, kakak perempuan, abang, kekasih yang pergi, yang mati, si kucing tetangga, si orang tua gelandangan, dan kamu tentu saja ada di salah satu diantaranya. Lalu wajah saya? Biar yang mencintai saya saja yang mencipta wajah saya.

Komentar